Dua Anak Paling Bahagia.


Untuk sepupuku tersayang.

Tubagus M Hudzaifah Hafizh Chairi dan Ratu Naila Hafizhoh Chairi.

 

Dua anak kakak beradik yang kuat.

Dua anak kakak beradik yang masing-masing dibawah sepuluh tahun.

Dua anak yang menyayangi dia yang meninggalkan mereka sebentar kemudian berhari-hari, kemudian berbulan-bulan.

Dua anak yang dia pikir belum mengerti apa-apa.

Dua anak yang selalu mengerti lebih dahulu sebelum orang dewasa memberinya pengertian atas apa keadaan yang terjadi.

Dua anak yang selalu memasang wajah lepas saat semua orang disekitar yang menyayangi mereka tidak meninggalkan mereka untuk orang lain.

Dua anak yang menyimpan setitik rasa kecewa, entah kepada orang yang meninggalkan atau orang yang menyebabkan dia pergi.

Dua anak yang merengut saat melihat sekelompok keluarga yang tidak lengkap anggotanya dan keduanya berpikir apakah mereka bisa sekuat ‘kami’?

Dua anak yang duduk santai menonton saudara mereka yang lain saling bergurau satu sama lain.

Dua anak yang bernafas lega saat terbangun dari tidur dan sudah ada saudara kecil lainnya yang menunggunya bangun dan mengajak bermain.

Dua anak yang dengan senang hati dirangkul karena setiap detik rangkulan seolah masalahnya hilang-walau untuk sementara.

Dua anak yang selalu memastikan apakah dari arah pintu datang seseorang yang mereka harapkan datang-atau kembai.

Dua anak yang merangkul erat bunda ereka agar suara tangisnya tidak terdengar keluar pintu.

Dua anak yang mengharapkan telepon genggam mereka masing-masing berdering dan orang yang diharapkan menanyakan kabar sekolah, kabar keluarga, atau bahkan kabar perasaannya hari ini.

Dua anak yang merasa bangga kepada bunda mereka karena selalu memberi penjelasan atas keadaan yang telah, sedang dan bahkan nantinya akan terjadi.

Dua anak yang saling mngingatkan satu sama lain untuk tetap dalam satu ikatan dan berjanji tidak akan pergi meninggalkan.

Dua anak yang merasa aman saat hujan petir datang dan bunda mereka duduk manis diantara mereka.

Dua anak yang sudah terbiasa dengan keadaan yang memaksa mereka untuk merasa tenang saat mata sudah memerah karena sedih atau bahkan kecewa.

Dua anak yang bukan tidak tahu harus melakukan apa.

Dua anak yang memiliki segalanya-kecuali dia.

Dua anak yang yakin semua yang sudah dan sedang terjadi bukan akan terbalas tetapi akan tersadar dan kembali.

Dua anak yang tetap selalu berdoa agar dia yang meninggalkan mereka untuk orang lain dapat terbangun dari tidurnya diantara mereka dan bunda mereka.

Dua anak yang nantinya akan menjadi dua anak besar-hati jiwa perasaan dan jalan pikirannya.

Dua anak yang mendapatkan banyak doa dari orang yang memilih untuk tetap berada disamping mereka.

Dua anak yang tidak memprihatinkan, tapi membanggakan.

Dua anak yang berteriak kegirangan saat bunda mereka pulang membawa bingkisan.

Dua anak yang saling menghibur satu sama lain saat mereka mulai sama-sama merasa kehilangan.

Dua anak yang berharap apa-apa yang telah terjadi hanyalah cerita dongeng yang seharusnya tidak diceritakan.

Dua anak yang mendapatkan apa yang mereka mau kecuali dia.

Dua anak yang nantinya mungkin bisa melupakan apa yang pernah terjadi atau mungkin melupakan bahwa dia pernah mengisi diantara kehidupan mereka.

Dua anak yang sama kuat dengan bundanya.

Dua anak yang seolah menutup telinga saat keadaan semakin memburuk dan jauh dari harapan.

Dua anak yang sangat tahu apa yang terbaik buat mereka.

Dua anak yang merancang apa yang harus mereka lakukan untuk hari ini, besok atau lusa hanya untuk menyenangkan diri mereka sendiri.

Dua anak yang saling menjaga agar saat salah satunya tidak menunduk lemas dengan mata berair.

Dua anak berharap agar orang lain tidak merasakan apa yang mereka rasakan.

Dua anak yang menjalani kehidupan dengan sempurna tanpa kurang satu apapun-dia sekalipun.

Dua anak yang seharusnya mendapat apa yang menjadi hak mereka bukan memberikan lebih banyak kewajiban untuk menutupi hak yang seharusnya mereka dapatkan.

Dua anak yang mendoakan siapapun yang merebut dia untuk mengembalikan dia utuh.

Dua anak yang selalu berharap agar orang yang merebut dia tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan.

Dua anak yang selalu bersyukur karena memiliki bunda yang sepenuh hati ada untuk mereka.

Dua anak yang sungguh kuat.

Dua anak yang selalu disayang.

 

Mereka yang kuat terbentuk dari ayahnya yang kuat. Termasuk pendirian ayahnya yang terlalu kuat untuk tetap menyakiti mereka. Tapi semua keluarga berharap apa-apa yang mereka contoh dari orangtua mereka merupakan hal-hal baik. Bukan hal-hal buruk yang nantinya merupaka keputusan yang salah dan saling menyakiti.

Keadaan keluarga yang makin memanas saling berkaitan. Karma menunggu mereka satu sama lain yang saling menghianati. Yang selalu merasa tidak cukup atas apa yang dimilik. Atas apa yang menjadi harapan bagi diri mereka sendiri. Atas orang-orang yang mengasihani kedewasaan mereka diluar batas. Atas entah apa tuntutan yang mengharuskan mereka mengambil keputusan itu.

Hal tersebut selalu mengingatkan kepada apa yang telah terjadi di waktu yang sudah lama terlewat. Mengingatkan atas apa yang sekian lama masih harus dibalas. Rusaknya hubungan yang telah dibina seharusnya bukan karena orang lain toh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s